Persiapan kesehatan gigi dan mulut penting bagi calon jamaah haji dan umrah agar ibadah lebih nyaman, lancar, dan terhindar dari nyeri gigi saat di tanah suci. Bagi calon jamaah haji dan umrah, kebiasaan menunda perawatan gigi bisa berisiko. Ketika sudah berada di tanah suci, akses ke dokter gigi mungkin tidak semudah di daerah asal. Waktu ibadah yang padat juga membuat keluhan gigi terasa lebih merepotkan.

Persiapan kesehatan gigi dan mulut adalah bagian penting dari kesiapan calon jamaah haji dan umrah. Masalah gigi yang tampak ringan sebelum berangkat dapat berubah menjadi keluhan serius selama perjalanan ibadah. Karena itu, calon jamaah sebaiknya melakukan pemeriksaan gigi lebih awal, menyelesaikan perawatan yang diperlukan, membawa perlengkapan kebersihan mulut, dan menjaga kebiasaan menyikat gigi selama di tanah suci.

Mengapa Kesehatan Gigi dan Mulut Penting Sebelum Haji dan Umrah?

Menjelang keberangkatan haji atau umrah, banyak calon jamaah lebih fokus pada pemeriksaan kesehatan umum, vaksinasi, obat pribadi, atau persiapan fisik. Hal itu tentu penting. Namun, ada satu hal yang sering dianggap sepele, yaitu kesehatan gigi dan mulut.

Padahal, perjalanan haji dan umrah membutuhkan kondisi tubuh yang prima. Jamaah akan menjalani aktivitas padat, berjalan cukup jauh, menghadapi perubahan cuaca, menyesuaikan pola makan, dan berada di tengah keramaian. Dalam kondisi seperti ini, masalah gigi yang awalnya ringan bisa berubah menjadi keluhan yang sangat mengganggu.

Nyeri gigi, gusi bengkak, sariawan, tambalan lepas, gigi tiruan yang tidak nyaman, atau bau mulut dapat mengganggu makan, tidur, berbicara, bahkan kekhusyukan ibadah. Karena itu, pemeriksaan gigi dan mulut sebaiknya menjadi bagian dari persiapan kesehatan sebelum berangkat.

Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa calon jamaah haji perlu memenuhi aspek istitha’ah kesehatan, yaitu kemampuan kesehatan untuk menjalankan rangkaian ibadah haji. Pemeriksaan ini mencakup kondisi fisik, kognitif, mental, dan kemampuan aktivitas harian jamaah. Artinya, kesiapan kesehatan tidak hanya soal bebas dari penyakit berat, tetapi juga mampu menjalankan ibadah dengan nyaman dan aman. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)

Pemeriksaan Gigi Sebaiknya Dilakukan Sebelum Berangkat

Pemeriksaan gigi sebelum haji atau umrah bertujuan untuk menemukan masalah sejak awal. Dokter gigi dapat memeriksa apakah ada gigi berlubang, infeksi gusi, karang gigi, sisa akar, gigi goyang, tambalan lama yang berisiko lepas, atau gigi tiruan yang tidak pas.

Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi Identist Care (drg. Irfan Dwiandhono, Sp.KG., M.Biomed., FIHFAA) menyarankan “Pemeriksaan gigi sebaiknya dilakukan minimal beberapa minggu sebelum keberangkatan, bukan beberapa hari sebelumnya. Alasannya, karena beberapa tindakan seperti penambalan gigi, pencabutan gigi, perawatan saluran akar, pembersihan karang gigi, atau penyesuaian gigi tiruan membutuhkan waktu pemulihan dan kontrol ulang.”

Panduan kesehatan haji dari Nusuk juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan mulut, menyikat gigi, membersihkan sela gigi, serta melakukan pemeriksaan gigi secara rutin untuk memastikan kesehatan rongga mulut jamaah. (Nusuk) Primary Health Care Corporation Qatar juga menganjurkan jamaah menjalani pemeriksaan gigi sebelum perjalanan untuk mendeteksi masalah gigi dan gusi serta memastikan tambalan atau restorasi gigi dalam kondisi aman. (Prod Corporate Website)

Masalah Gigi yang Perlu Diatasi Sebelum Keberangkatan

Sebelum berangkat, calon jamaah sebaiknya tidak mengabaikan gigi berlubang, gusi berdarah, gigi sering ngilu, sisa akar, gigi bungsu yang sering sakit, tambalan yang terasa longgar, mahkota gigi yang tidak nyaman, atau gigi tiruan yang sering melukai gusi.

Gigi berlubang yang belum dirawat dapat menyebabkan nyeri hebat saat makan atau minum. Gusi yang meradang dapat menimbulkan perdarahan, bau mulut, dan rasa tidak nyaman. Sisa akar dapat menjadi sumber infeksi. Gigi tiruan yang tidak pas juga bisa menimbulkan luka, terutama jika dipakai dalam waktu lama selama perjalanan.

Bagi jamaah dengan penyakit kronis seperti diabetes, pemeriksaan gigi menjadi lebih penting. Penyakit gusi lebih sering terjadi pada orang dengan diabetes, sehingga pemeriksaan gigi rutin, menyikat gigi, dan membersihkan sela gigi perlu menjadi bagian dari perawatan diri. (World Health Organization)

Perlengkapan Kesehatan Gigi dan Mulut yang Perlu Dibawa

Calon jamaah sebaiknya membawa perlengkapan kebersihan mulut pribadi dalam ukuran yang mudah dibawa. Perlengkapan utama meliputi sikat gigi berbulu halus, pasta gigi berfluoride, benang gigi atau interdental brush, obat kumur sesuai anjuran dokter gigi, serta pembersih gigi tiruan bagi pengguna gigi palsu.

Bagi jamaah yang memiliki riwayat sariawan atau nyeri gigi berulang, sebaiknya berkonsultasi dahulu dengan dokter gigi mengenai obat yang aman dibawa. Hindari membeli atau mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter, karena antibiotik tidak selalu diperlukan untuk semua keluhan gigi dan penggunaannya harus sesuai indikasi medis.

Jamaah juga perlu membawa wadah kecil untuk menyimpan sikat gigi agar tetap bersih. Jika menggunakan gigi tiruan, bawa kotak gigi tiruan dan alat pembersihnya. Hal sederhana ini dapat membantu menjaga kebersihan mulut selama perjalanan.

Cara Menjaga Gigi dan Mulut Selama di Tanah Suci

Selama menjalankan ibadah, jamaah sebaiknya tetap menyikat gigi minimal dua kali sehari, terutama pagi dan sebelum tidur. Membersihkan sela gigi juga penting karena sisa makanan sering terselip di antara gigi dan dapat menimbulkan bau mulut atau radang gusi.

Setelah makan makanan manis, lengket, atau berserat, berkumurlah dengan air putih jika belum sempat menyikat gigi. Minum air yang cukup juga penting untuk mencegah mulut kering. Mulut kering dapat menyebabkan bau mulut, rasa tidak nyaman, dan mempercepat pertumbuhan bakteri.

Jamaah juga sebaiknya menghindari membuka kemasan atau botol dengan gigi. Kebiasaan ini dapat menyebabkan gigi retak, tambalan lepas, atau gigi patah. Jamaah juga untuk menghindari makanan yang terlalu keras atau lengket karena dapat merusak tambalan, restorasi gigi, atau melukai gusi. 

Kapan Harus Segera Mencari Bantuan?

Jamaah sebaiknya segera mencari bantuan tenaga kesehatan jika mengalami nyeri gigi berat, gusi bengkak, demam disertai sakit gigi, keluar nanah dari gusi, luka mulut yang tidak membaik, gigi patah, tambalan lepas dengan nyeri, atau gigi tiruan menyebabkan luka yang mengganggu makan.

Jangan menunggu sampai keluhan semakin berat. Segera hubungi petugas kesehatan kloter, pembimbing rombongan, atau fasilitas kesehatan terdekat agar keluhan dapat ditangani dengan tepat.

Dengan gigi dan mulut yang sehat, jamaah dapat makan lebih nyaman, beristirahat lebih baik, berbicara lebih leluasa, dan menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk. Persiapan kecil sebelum berangkat dapat memberi dampak besar bagi kenyamanan ibadah haji dan umrah.

 

Editor : drg. Irfan Dwiandhono, Sp.KG., M.Biomed., FIHFAA

Lokasi dan Kontak Identist Care:

Alamat :  Permata Harmoni F1 No. 1, Ledug, Kembaran, Purwokerto, Banyumas
WA :  0815-6783-9191
Website :  https://identistcare.com
Instagram: @identist_care